Pages

Gunakan MOZILLA FIREFOX untuk Mengakses Website ini dan Jangan Lupa Klik Iklannya ya

CLICK siapa tahu anda yang BERUNTUNG

Friday, June 28, 2013

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM HUBUNGAN AIR, TANAH, DAN TANAMAN


LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
HUBUNGAN AIR, TANAH, DAN TANAMAN
Disusun Oleh :
Nama       : Ari Setiadi
NIM         : 11911
Dosen      : Ir. Suci Handayani, M.P





JURUSAN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013


HUBUNGAN TANAH, AIR, TANAMAN, DAN ATMOSFER

Abstraksi
            Praktikum lapangan Hubungan Tanah, Air, Tanaman dan Atmosfer dilaksanakan pada hari Sabtu, 8 Juni 2013 di daerah Bambanglipuro, Pantai Samas, Desa Trisikdan Pantai Bugel. Pada praktikum ini di berbagai lokasi diamati mengenai sistem tanaman budidaya yang dikembangkan, kondisi pertumbuhan tanaman, sistem pengolahan tanah, sistem irigasi dan modifikasi iklim mikro yang dilakukan oleh petani, dimana pada empat lokasi atau stop site yang diamati mempunyai permasalahan yang berbeda pada sistem budidaya tanaman yang diusahakan pada lahan tersebut. Pengamatan yang dilakukan meliputi kecepatan angin, suhu udara,suhu tanah,DHL tanah,DHL air,pH tanah,pH air,DP,WB,kelembaban udara,dan data lain yang dibutuhkan sesuai pokok pembahasan. Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini yakni penggaris, pH meter, EC meter, termometer tanah dengan berbagai kedalaman (0, 10, 30 cm), cepuk, aquades, plastik,kamera, alat tulis, dan bor tanah. Sedangkan untuk pengukuran kadar lengas tanah dilakukan dengan metode gravimeteri di Laboratorium Fisika Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta..Untuk cara kerjanya dilakukan pengamatan dengan melihat kondisi pertumbuhan tanaman di setiap tempat, pola tanam yang digunakan, jenis tanaman dan varietas, sistem irigasi atau pemenuhan kebutuhan air, modifikasi iklim (pengurangan evapotranspirasi), sistem pengelolaan tanah yang meliputi : penyiapan lahan (olah tanah sampai siap tanam), input (pupuk, bahan amelioran), sistem perawatan dan dokumentasi serta mengambil sampel tanah di setiap tempat untuk di amati kelembabannya dengan penentuan kadar lengas metode gravimetris di laboratorium.Hasil yang diperoleh di daerah Bambanglipuro yaitubudidaya tanaman terong (Solanum melongena L) yang pengolahan atau penyiapan lahannya tidak terlalu rumit.Sistem irigasi yang diterapkan yaitu genangan dalam parit.Di daerah pantai Samas, tanaman yang dibudidayakan adalah kangkung. Sistem irigasi menggunakan sumur renteng, pipa O dan sumur bor. Di daerah Trisik dilakukan penanaman melon dan kedelai tanpa pengolahan tanah. Sedangkan di daerah Bugel dilakukan minimum tillage dengan cemara udang (Casuarinaequisetifolia) sebagai tanaman pemecah angin (wind breaker).Sistem irigasi yaitu menggunakan sumur renteng.



I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tanah, air, tanaman dan atmosfer mempunyai hubungan keterkaitan satu sama lain yang antinya bahwa masing-masing faktor akan saling memberikan pengaruh bagi faktor yang lainnya. Ketiga faktor tersebut akan membentuk suatu iklim mikro yang secara langsung memberikan pengaruh yang besar bagi kehidupan tanaman.  Pertumbuhan tanaman akan sangat dipengaruhi oleh keadaan tanah baik dalam sifat fisika maupun sifat kimia karena tanah merupakan media pertumbuhan bagi tanaman dimana unsur hara dan air diserap untuk menunjang pertumbuhannya.
Air sendiri merupakan faktor yang mutlak dibutuhkan bagi tanaman karena segala proses yang berlangsung dalam tanaman tidak bisa berjalan tanpa adanya air. Selain itu pertumbuhan juga dipengaruhi oleh keadaan atmosfer disekitarnya meliputi suhu, kelembaban dan kecepatan angin.Oleh karena itu perlu diadakan modifikasi iklim mikro agar tanaman yang dibudidayakan di suatu tempat dapat tumbuh dan berproduksi dengan optimal.

B.Tujuan
1.      Mengetahui pengaruh keadaan air, tanah, dan atmosfer terhadap pertumbuhan tanaman.
2.      Mengetahui teknik budidaya pertanian yang dilakukan oleh petani di empat lokasi pengamatan.
3.      Mengetahui sistem irigasi dan sistem pengelolaan tanah yang dilakukan oleh petani di tiga lokasi pengamatan.
4.      Mengetahui teknologi dan usaha yang dapat dilakukan oleh petani untuk meningkatkan kualitas lahannya.


II.                TINJAUAN PUSTAKA

Tanah merupakan suatu sistem yang kompleks, berperan sebagai sumber kehidupan manusia yaitu air, udara, dan unsur hara. Atas dasar definisi ini maka tanah mempunyai 4 fungsi utama  (Hanafiah, 2004) :
1.      Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran.
2.      Penyedia kebutuhan primer tanaman untuk melaksanakan aktivitas metabolisme, baik selam pertumbuhan maupun untuk berproduksi meliputi air, udara, dan unsur hara.
3.      Penyedia kebutuhan sekunder tanaman yang berfungsi dalam menunjang aktivitasnya supaya berlangsung optimum. Meliputi zat-zat aditif yang diproduksi biota tanah.
4.      Habitat biota tanah.
Di Indonesia lahan marginal dijumpaibaik pada lahan basah maupun lahan kering.Lahan basah berupa lahan gambut, lahansulfat masam dan rawa pasang surut seluas 24juta ha, sementara lahan kering kering berupatanah Ultisol 47,5 juta ha dan Oxisol 18 juta ha(Suprapto, 2003). Indonesia memiliki panjanggaris pantai mencapai 106.000 km denganpotensi luas lahan 1.060.000 ha, secara umumtermasuk lahan marginal.Berjuta-juta hektarlahan marginal tersebut tersebar di beberapapulau, prospeknya baik untuk pengembanganpertanian namun sekarang ini belum dikeloladengan baik.Lahan-lahan tersebut kondisikesuburannya rendah, sehingga diperlukaninovasi teknologi untuk memperbaikiproduktivitasnya.
Salah satu yang termasuk ke dalamlahan marginal adalah lahan pasir. Selama inipenanganan lahan pasir  masih relatif kurang.Pulau Jawa memiliki pantai yang luas 81.000km2 potensial dikembangkan sebagai lahanpertanian. Provinsi DIY memiliki lahan pasirpantai seluas sekitar 3.300 hektar atau 4%luas wilayah, terbentang sepanjang 110 km dipantai selatan lautan Indonesia. Bentanganpasir pantai ini berkisar antara 1-3 km darigaris pantai.Sistem bentang darat ini mudahgoyah mengakibatkan terhambatnya prosespembentukan tanah (Yuwono, 2009).
Lahan pasir pantai merupakan lahanmarjinal dengan ciri-ciri antara lain : teksturpasiran, struktur lepas-lepas, kandungan hararendah, kemampuan menukar kation rendah,daya menyimpan air rendah, suhu tanah disiang hari sangat tinggi, kecepatan angin danlaju evaporasi sangat tinggi.Upaya perbaikan sifat-sifat tanah danlingkungan mikro sangat diperlukan, antaralain misalnya dengan penyiraman yang teratur,penggunaan mulsa penutup tanah,penggunaan pemecah angin (wind breaker),penggunaan bahan pembenah tanah(marling), penggunaan lapisan kedap, danpemberian pupuk (baik organik maupunanorganik) (Yuwono, 2009).
Masalah yang dijumpai pada tanah pasiran adalah strukturnya yang jelek, berbutir tunggal, berat volume yang tinggi, dan kemampuan menahan air yang rendah, sehingga kurang memadai untuk bercocok tanam pada musim kemarau (Mulyadi cit. Kertonegoro, 1993).
Kemampuan menahan air yang rendah, akan meyebabkan kehilangan unsur hara dari dalam tanah melalui pelindian akan semkin besar berjalan dengan semakin tingginya curah hujan(Hakim et al. 1986). Tekstur tanah berpasir juga akan menyebabkan banyak pupuk terlindi karena mempunyai laju infiltasi yang cepat (Widjajaadi et al., 1987). Unsur utama yang sering hilang dari dalam tanah melalui pelindian adalah N, K, Ca, dan Mg(Hakim et al., 1986). Lebih jauh lagi, tanah bertekstur pasiran  juga mempunyai kandungan bahan organik dan hara N yang rendah sehingga tanah ini memerlukan pemberian hara N yang cukup banyak, sedangkan kemungkinan kehilangan hara N melalui pelindian cukup besar(Rinsemi, 1993).
Menurut Sudihardjo (2000), berdasarkan kriteria CSR/FAO 1983 kesesuaian aktual lahan pasir Pantai Selatan DIY termasuk kelas Tidak Sesuai atau Sesuai Marginal untuk komoditas tanaman pangan dan sayuran. Akan tetapi beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan adanya kecenderungan perbaikan hasil dari perlakuan-perlakuan yang dilakukan terhadap tanah, meskipun belum mantap.
Pengelolaan usaha pertanian di lahan marginal umumnya terpusat pada musim penghujan. Panen air hujan  dilaporkan efektif untuk mengatasi masalah kekurangan air di lahan tadah hujan. Namun teknik memanen air hujan sangat bervariasi tergantung fisiografi lahan dan ketersediaan sumberdaya lokal.Teknik pemanenan air hujan dengan teknik tandon (penampung air berukuran kecil) cocok dikembangkan di daerah tadah hujan dengan intensitas dan distribusi curah hujan yang tidak pasti (Parimawati, 2001).
Embung atau tandon air adalah waduk berukuran mikro di lahan pertanian (small farm reservoir) yang dibangun untuk menampung kelebihan air hujan dimusim hujan dan menggunakannya jika diperlukan tanaman pada musim kemarau. Teknik pemanen air (water harvesting) demikian cocok bagi ekosistem tadah hujan dengan intensitas dan distribusi curah hujan tidak pasti (eratic) (Syamsiah dan Fagi, 2004).
Lengas tanah dibedakan menjadi lengas gravitasi yaitu lengas yangbergerak ke bawah oleh gaya  gravitasi;kapiler yaitu lengas yang mengisi porikapiler atau pori mikro; lengashigroskopis yaitu lengas yang terikatsangat kuat oleh permukaan butir tanahsehingga dalam keadaan kering angin,lengas tersebut tidak dapat diseraptanaman. Lengas yang pentingperanannya bagi kehidupan tanamanialah lengas kapiler (Mardjuki, 1994).
Pertumbuhan tanamantergantung kepada jumlah air yangtersedia di dalam tanah.Pertumbuhanakan dibatasi oleh kandungan air sangatrendah maupun kandungan air sangattinggi (Anonim, 1991). Tanaman mempunyai banyak cara mengatur dirimereka dengan kondisi air yangterbatas. Kebanyakan tanaman panganketika tumbuh di lahan agak keringtidak hanya akan mempunyai beratotal yang lebih kecil, tapi juga hasilbagi trubus / akar yang lebih kecil. Dilain pihak, pertumbuhan tanaman ditanah dengan kandungan lengas tinggiakan mempunyai hasil bagi trubus /akar lebih besar (Kohnke, 1968).


III.             METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Praktikum lapangan Hubungan Tanah, Air, Tanaman dan Atmosfer ini dilaksanakan pada tanggal 8 Juni 2013.Adapun tempat dilaksankannya praktikum terdiri atas4 stop site, yaitu Bambanglipuro, Pantai Samas, Desa Trisik, dan pantai Bugel. Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain adalah Termometer bengkok, EC- meter untuk pengukuran DHL (Daya Hantar Listrik), pH meter, bor tanah, mistar, Flowmeter, dan GPS, sedangkan untuk pengukuran kadar lengas tanah dilakukan dengan metode gravimeteri di Laboratorium Fisika Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Pengamatan diawali dengan pencatatan morfologi tapak dimulai dari penulisan lokasi, ketinggian tempat, koordinat, pengguanaan lahan, vegetasi yang tumbuh dan dibudidayakan, sistem irigasi/ pemberian air, pengelolaan lahan, dan sistem budidaya yang dilakukan.Di lapangan juga dilakukan pengukuran suhu udara, suhu tanah, kelengasan tanah, daya hantar listrik, pH tanah dan air. Selain itu juga dilakukan pengamatan terhadap proses pengairan yang dilakukan di lahan gumuk pasir pantai Trisik dan pasir pantai Bugel.
Pengamatan kondisi lahan yang dilakukan adalah mengukur tinggi genangan (apabila terdapat suatu genangan), tinggi bedengan, lebar bedengan, mengukur suhu tanah pada permukaan, kedalaman 10 cm dan kedalaman 40 cm, kemudian mengukur pH tanah dan DHL pada berbagai kedalaman (0 cm, 10 cm, 30 cm dan 40 cm), dalam pengukuran pH dan DHL, contoh tanah yang diambil pada berbagai kedalaman diencerkan dahulu dengan aquades agar kondisi tanah menyerupai pasta sebelum dilakukan suatu pengukuran, selain itu diambil pula contoh tanah pada berbagai kedalaman (0 cm, 10 cm, 30 cm dan 40 cm) yang digunakan untuk analisis kadar lengas di laboratorium.
Selain kegiatan analisis dan pengambilan sampel tanah juga dilakukan pula tindakan observasi lainnya, yaitu berupa wawancara dengan petani. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui informasi terkait dengan sistem pertanian dan pola tanam yang dilakukan oleh petani di daerah yang kita survey.


IV.             HASIL PENGAMATAN
Stop site                      : 1                                            lokasi               :Bambang lipuro
Ketinggian                  : 26-27 m dpl                           koordinat         : 07° 59,017     LS
                                                                                                              110° 16,648’ BT
Penggunaan lahan       : sawah
Vegetasi                      : Terong,Padi,dan Timun
Irigasi/pemberian air    : air sungai
no
parameter
Sesaat
Minimum
Maximum
Rata-rata
1
Kecepatan angin
0,8
1,55
2,3
0,8
2
Kelembaban
99,9
99,99
99,99
99,99
3
Suhu udara
permukaan
27,6
Jeluk 10 cm
26,6
Jeluk 50 cm
27,8

4
pH tanah
6
-
-
-
5
Suhu tanah
27,6
26,6
27,2
27,8
6
DHL air
0,02
-
-
-
7
DHL tanah
0,02
-
-
-
8
Bedengan
(P)17,18m
(L)8,7
(s)42

9
pH air
6
-
-
-
10
KL



45,44




Stop site                      : 2                                            lokasi               :samas
Ketinggian                  :28 m dpl                                 koordinat         : 07° 59,87       LS
                                                                                                              110° 15,64     BT
Penggunaan lahan       : ading
Vegetasi                      : Terong,kangkung
Irigasi/pemberian air    : sumur renteng,gembor,pipa U
no
Parameter
Sesaat
minimum
Maximum
Rata-rata
1
Kecepatan angin
2,1
0,4
2,3
1,5
2
Kelembaban
82,1
78,9
86,1
80,6
3
Suhu udara
29,7
29,1
29,7
29,3
4
pH tanah
5,5
-
-
-
5
Suhu tanah
32
28
29,4
27,8
6
DHL air
0,24
-
-
-
7
DHL tanah
0,1
-
-
-
8
pH air
6
-
-
-
9
DP
25,9
24,9
27,1
25,7
10
WB
26,6
26
27,7
26,6
11
KL



10,09


Stop site                      : 3                                            lokasi               : desa trisik
Ketinggian                  : 27 m dpl                                koordinat         : 07° 57,02       LS
                                                                                                              110° 13,12’   BT
Penggunaan lahan       :persawahan
Vegetasi                      : melon dan kedelai
Irigasi/pemberian air    : air sungai dan hujan
no
Parameter
Sesaat
minimum
Maximum
Rata-rata
1
Kecepatan angin
0
0
1,2
0,6
2
Kelembaban
80
78,4
86,7
80,1
3
Suhu udara
27,9
27,7
28,1
28,8
4
pH tanah
6
-
-
-
5
Suhu tanah
27,2
27,3
28,2
27,8
6
DP
24,2
23,9
25,3
24,4
7
WB
25,2
24,9
25,9
25,2
8
KL



47,89




Stop site                      : 4                                            lokasi               :Bugel
Ketinggian                  : 24 m dpl                                koordinat         : 07° 57,11       LS
        Penggunaan lahan       : ladang
Vegetasi                      : sawi dan cabai
Irigasi/pemberian air    : sumur renteng dan pipa U
no
Parameter
sesaat
minimum
maximum
Rata-rata
1
Kecepatan angin
0
0
0,8
0,4
2
Kelembaban
82,2
81
82,2
77,9
3
Suhu udara
26,6
26,4
26,7
26,4
4
pH tanah
5,5
-
-
-
5
Suhu tanah
29,9
29,7
27,2
28,9
6
DHL air
0,03
0,01
0,02
0,15
7
KL jeluk 5 cm



6,465
8
KL jeluk 10 cm



6,467
9
KL jeluk 15 cm



6,249









I.                   PEMBAHASAN
           
Tanah, air, tanaman dan atmosfer mempunyai hubungan keterkaitan satu sama lain yang antinya bahwa masing-masing faktor akan saling memberikan pengaruh bagi faktor yang lainnya. Ketiga faktor tersebut akan membentuk suatu iklim mikro yang secara langsung memberikan pengaruh yang besar bagi kehidupan tanaman.  Pertumbuhan tanaman akan sangat dipengaruhi oleh keadaan tanah baik dalam sifat fisika maupun sifat kimia karena tanah merupakan media pertumbuhan bagi tanaman dimana unsur hara dan air diserap untuk menunjang pertumbuhannya. Air sendiri merupakan faktor yang mutlak dibutuhkan bagi tanaman karena segala proses yang berlangsung dalam tanaman tidak bisa berjalan tanpa adanya air. Selain itu pertumbuhan juga dipengaruhi oleh keadaan atmosfer disekitarnya meliputi suhu, kelembaban dan kecepatan angin.Oleh karena itu perlu diadakan modifikasi iklim mikro agar tanaman yang dibudidayakan di suatu tempat dapat tumbuh dan berproduksi dengan optimal.
Stopsite 1 berada di Bambanglipuro, desa Sri Gading.Petani  menanam di daerah ini dengan sistem pertanian tumpangsari dan monokultur. Jenis tanah yang terdapat pada lahan ini adalah Inceptisol meskipun lempungnya sudah banyak.Sistem budidaya yang digunakan di daerah ini adalah sistem genangan dalam parit yaitu dengan membuat bangunan penguat di saluran primer sebagai irigasi.Hal ini dimaksudkan untuk tetap menjaga ketersediaan air pada musim kemarau dengan irigasi dan pada musim hujan dengan kondisi jenuh akan lebih mudah dilakukan pembuangan air. Selain itu ada juga petani yang menanam padi di parit yang dibuatnya, padi ini biasanya hanya hasilnya hanya digunakan untuk konsumsi sehari-hari.Tanaman yang ditanam pada waktu kita mengunjungi tempat tersebut adalah tanaman terong. Sistem pertanaman dengan metode ini bisa dilakukan untuk segala tanaman hortikultura dan tanaman semusim lainnya.
 Pengamatan di lapangan menunjukkan suhu tanah permukaan lebih tinggi dari pada suhu tanah pada kedalaman jeluk 10 cm, namun lebih rendah dari jeluk 50 cm. Hal ini terjadi karena permukaan tanah merupakan daerah yang paling luar sehingga terkena pengaruh langsung sinar matahari. Sedangkan pada kedalaman 50 cm suhu tanah lebih tinggi dibandingkan suhu tanah padapermukaan dan kedalaman 10 cm. Padahal seharusnya semakin kedalam suhu akan semakin rendah. Hal ini dapat dikarenkan adanya aktifitas mikrobia yang aktif pada jeluk tersebut sehingga panas dapat terbentuk atau adanya proses fermentasi bahan organik yang dapat menyebabkan panas berlebih.
Data pH yang dihasilkan dari pengujian tanah ini rata-ratanya adalah 6 sehinggadapat dikategorikan pHnetral tanah.Sementara kadar lengas pada tanah yang diamati cukup tinggi yaitu 45,44. Kondisi ini akan mencukupi bagi pertumbuhan tanaman budidaya dengan baik.
Pengamatan lapangan di stop site II ini dilakukan di lokasi atau daerah Pantai Samas, Srigading, Bantul, Yogyakarta. Daerah ini memiliki ketinggian tempat 28 meter di atas permukaan laut yang terletak pada kordinat 70 59’87” LS, 1100 15’64” BT, Lahan pasir pantai merupakan lahan marginal yang dicirikan oleh tekstur pasiran, kandungan hara yang rendah, water holding capacity rendah, mudah tererosi, angin yang sangat kencang dan membawa uap garam serta suhu tanah yang tinggi. Dengan demikian, maka pada umumnya lahan  daerah ini memiliki bentuk topografi datar. Berdasarkan hasil pengamatan di Sri Gading Emas terdapat sistem budidaya minimum tillage dengan sistem irigasi menggunakan sumur renteng, tetapi sekarang sistem sumur renteng sudah banyak yang diganti dengan sistem pompa yaitu menggunakan pipa yang kemudian cara penggunaannya dengan cara disemprotkan ke lahan. Hal ini dilakukan berkaitan dengan ketersediaan tenaga kerja di daerah tersebut, dengan menggunakan sistem pompa lebih menghemat tenaga kerja sehingga sistem ini cocok digunakan untuk daerah yang memiliki tenaga kerja yang terbatas. Selain kedua cara tersebut, adapula yang menggunakan sumur bor. Pada setiap lahan terdapat bak control yang mengairi sumur renteng yang ada di lahan. Lahan di daerah ini digunakan untuk tegalan, tanaman yang ditanam adalah Kacang tanah, sorghum dan padi. Sistem pengelolaan lahan yang digunakan adalah sistem budidaya minimum tillage, maksudnya adalah memanfaatkan lahan yang ketersediaan lengas dan unsur haranya dalam keadaan terbatas menjadi suatu lahan yang lebih bermanfaat dan menghasilkan produk yang tinggi. Lahan yang digunakan di daerah ini merupakan lahan pasir dimana lahan pasir termasuk dalam lahan kritis yaitu lahan yang tidak dapat ditanami atau dibudidayakan, ini dikarenakan lahan pasir merupakan lahan yang miskin hara, kondisi tanahnya phorus, suhu tanah sangat tinggi (suhu ekstrim) dan juga ketersediaan air di dalam tanah sedikit karena pada tanah ini air mudah lolos dan menguap. Lahan pasir yang dahulunya termasuk lahan kritis dan tidak dapat dibudidayakan sekarang berubah menjadi lahan yang bermanfaat dan dapat dibudidayakan, hal ini dapat terjadi karena adanya rekayasa lahan dalam proses pengelolaan lahannya yaitu dengan cara mencampur lempung dan pupuk kandang pada lahan tersebut. Lempung diberikan bertujuan untuk menjerap/mengikat hara tanah, pemberiannya dilakukan pada saat lahan pertama kali akan dibudidayakan. Pasir yang ada di Samas adalah pasir dari batu merapi yang porus air dan miskin hara. Lahan pasir pantai yang ada di Samas dikelola oleh kelompok tani yang dirintis oleh Pak Bandi. Manurut penjelasan Pak Bandi bahwa semua tanah atau jenis tanah itu bisa ditanami asal sudah disentuh dan dikelola oleh manusia ,tidak hanya diberi pupuk kandang namun juga bisa diberi arang jerami dan sekam. Untuk pengelolaan pasir putih biasanya digunakan dengan pemberian arang jerami tau kayu.Namun kunci utama yaitu air, jika ada air pasti bisa tumbuh atau hidup.Hama yang biasa menyerang di Samas yaitu Fusarium dan phytoptora.
            Pada daerah ini tidak memakai mulsa bawah tanah karena sudah direkayasa menggunakan tanah lempung, dan dengan perlakuan seperti ini sekiranya sudah dapat menahan air dan tanah sudah tidah phorus lagi, ini karena tanh lempung digunakan sebagai pengikat air dan dapat menambah unsur hara. Selain itu juga karena apabila menggunakan mulsa plastik dapat mengakibatkan tanaman tidak dapat bernafas sehingga tanaman layu, hal ini disebabkan karena penguapan yang terjadi menjadi sangat tinggi. Kedalaman efektif yang dapat dicapai oleh akar tanaman adalah 50 cm dan apabila lebih dari kedalaman tersebut maka tanaman tidak dapat hidup.
Analisis yang dilakukan di lahan tersebut adalah pengukuran suhu tanah, kecepatan angin, kelembaban udara, pH, kadar lengas, dan DHL. Pengukuran suhu tanah dilakukan pada 3 jeluk yaitu permukaan, 10 cm, dan 50 cm, dimana masing-masing jeluk ada 3 lokasi pengamatan. Hasilnya suhu tanah pada permukaan dari lokasi 1, 2 dan 3 secara berturut-turut yaitu 39,7oC, 29,1 oC dan 29,7 oC. pH lapangan yang terukur 5,5 menunjukan pH mendekati netral tanah. Hal ini mungkin disebabkan kandungan di air dan tanah di lapangan yang berbeda. Air lapangan tidak steril sudah tercampur oleh air hujan dan kontaminasi lain sehingga menghasilkan nilai yang berbeda. Semakin dalam tanah maka pH tanah akan semakin tinggi. Pada jenis tanah pasiran ini belum terjadi horizonisasi yakni pembentukan horizon sehingga tanah ini merupakan tahap awal perkembangan tanah.Oleh karena tanah pasiran tidak mengandung lempung, yang menyebabkan nilai DHL yang terjadi rendah dan karena pasir-pasir ini mempunyai muatan yang sangat rendah atau dapat dikatakan tidak bermuatan sehingga kemampuan dalam menyerap dan menghantarkan ion-ion juga rendah.Hal ini menyebabkan tanah ini mempunyai tingkat kesuburan yang rendah. Pada air memiliki nilai DHL yang tinggi mungkin disebabkan kontaminasi garam atau air lapangan yang mempunyai kadar garam yang cukup tinggi sehingga berpengaruh terhadap pengukuran DHL air tersebut. Kadar lengas di samas cukup rendah yaitu 10,09 dibandingkan tanah biasa karena tekstur tanah samas yaitu tanah pasiran.
Pada stop site 3 ini di daerah Pantai Trisik, Desa Kranggan 32 m dpl dengan koordinat 7057’02” LS-110013’12”BT. Pada daerah ini sistem budaya ang dipake adalah Zero tillage atau minimum tillage dengan vegetasi yang ditanam adalah Melon dan kedelai. Tanaman melon ada yang merambat ke atas dan ke bawah.Melon yang merambat ke bawah dapat menggunak seresah untuk merambat buah nya. Zeroo tillage dan Minimum Tillage Pengolahan tanah hanya pada lubang-lubang yang akan digunakan untuk menanam Jika dilakukan maksimum tillage akan mengakibatkan banyak kontak dengan tanah, tanah dapat mengalami pembalikan sehingga penguapan akan besar. Zero  tillage termasuk budidaya tanpa olah tanah yang memiliki beberapa keunggulan yaitu :
1.      Mengirit biaya yang dikeluarkan
2.      Dapat mengefisienkan penggunaan air
3.      Aerasi nya tidak dipercepat dibandingkan dengan tanah yang diolah.
Pengolahan yang dilakukan meliputi pemulsaan dengan menggunakan sisa padi atau membiarkan singgang, pengolahan tanah hanya dengan garu.Sisa panen padi sebagai mulsa, atau tetap dibiarkan jadi padi masih bisa berproduksi tapi dalam jumlah yang rendah. Sistem sumur renteng sudah banyak yang diganti dengan sistem pompa yaitu menggunakan pipa yang kemudian cara penggunaannya dengan cara disemprotkan ke lahan. Hal ini dilakukan berkaitan dengan ketersediaan tenaga kerja di daerah tersebut, dengan menggunakan sistem pompa lebih menghemat tenaga kerja sehingga sistem ini cocok digunakan untuk daerah yang memiliki tenaga kerja yang terbatas. Selain kedua cara tersebut, adapula yang menggunakan sumur bor yaitu air yang akan digunakan siambil dari selokan yang terdapat atau yang mengalir di bawah lahan yang dibudidayakan. Lahan di daerah ini digunakan untuk budidaya tanaman hortikultura, tanaman yang dibudidayakan antara lain bawang merah, terong, cabai, timun, semangka. Sistem pengelolaan lahan yang digunakan adalah sistem budidaya minimum tillage, maksudnya adalah memanfaatkan lahan yang ketersediaan lengas dan unsur haranya dalam keadaan terbatas menjadi suatu lahan yang lebih bermanfaat dan menghasilkan produk yang tinggi. Lahan yang digunakan di daerah ini merupakan lahan pasir dimana lahan pasir termasuk dalam lahan kritis yaitu lahan yang tidak dapat ditanami atau dibudidayakan, ini dikarenakan lahan pasir merupakan lahan yang miskin hara, suhu tanah sangat tinggi, dan juga ketersediaan air di dalam tanah sedikit karena pada tanah ini air mudah lolos dan menguap. Lahan pasir yang dahulunya termasuk lahan kritis dan tidak dapat dibudidayakan sekarang berubah menjadi lahan yang bermanfaat dan dapat dibudidayakan, hal ini dapat terjadi karena adanya rekayasa lahan dalam proses pengelolaan lahannya. Dalam hal penggunaan lahan untuk budidaya dan pengolahan lahannya hampir sama dengan yang dilakukan oleh petani di daerah pantai Samas, yang membedakan yaitu cara merekayasa lahannya, di daerah ini tidak menggunakan penambahan tanah lempung, tetapi hanya menggunakan kotoran ternak dan mulsa jerami.
Pada saat praktikum dilaksanakan cuaca sangat cerah dengan suhu udara 28oC dengan kecepatan angin mendekati 0 yaitu sebesar 0,6 m/s. Nilai pH yang terukur adalah sebesar 6 yang merupakan pH netral bagi tanah. Pada lahan di lahan ini memiliki KL yang cukup tinggi yaitu 47,89. Kadar lengas pada stop site ini lebih tinggi daripada KL di lahan pada stop site pertama. Tanaman akan dapat tumbuh baik pada kondisi yang cukup lengasnya.
Pengamatan lapangan di stop site IV ini dilakukan di Pantai Bugel, Kulon Progo, Yogyakarta. Daerah ini memiliki ketinggian tempat 31 meter di atas permukaan laut yang terletak pada kordinat7057’11” LS-110009’43”BT, daerah ini memiliki sistem irigasi Sumur renteng, pralon-pralon pipa O, dan wind break (buatan manusia). Di sana wind break menggunakan cemara udang dan ada pemecah angin (wind break) buatan atau disebut artificial wind break menggunakan daun kelapa yang dianyam. Pengelolaan lahan termasuk minimum tillage pada lahan yang telah lama diolah, sedangkan pada lahan bukaan baru pengolahaan lahan akan maksimum tillagekarenaakan diperlukan banyak penambahan bahan-bahan ke dalam lahan pertamanan karena daerah pantai termasuk lahan marjinal.
Pembukaan pasir pantai sering menemui banyak kendala. Dengan demikian  dilakukan upaya untuk menanggulangi kendala-kendala tersebut antara lain dengan:
1.   Penambahan Bahan Organik
2.   Penambahan bahan lempung
3.   Pembuatan lapisan kedap air
4.   Pemulsaan
5.   Penggunaan windbreaker
Pada daerah yang diamati digunakan upaya-upaya pengendalian berupa penambahan bahan organik, penambahan lapisan lempung, serta penggunaan mulsa organik. Penambahan bahan organik dimaksudkan untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Dari segi fisika, dengan penambahan BO agregasi tanah akan menjadi lebih baik, meningkatkan kemampuan tanah menyerap air sehingga jumlah air tersedia bagi tanaman menjadi meningkat. Dari segi kimia, BO adalah sumber unsur hara N, P, S dan beberapa sumber hara mikro. Lalu dengan penambahan BO dapat meningkatkan KPK tanah pasir pantai. Dari segi biologi, BO adalah sumber energi bagi mikroorganisme, sebagai contoh adalah Nitrosomonas yang berfungsi dalam nitrifikasi.
Penambahan lempung juga memiliki fungsi yang sama dengan penambahan BO yaitu untuk memperbaiki agregasi tanah, meningkatkan kemampuan tanah menyerap air, dari segi kimia, penambahan bahan lempung akan meningkatkan KPK, tapi bukan sebagi sumber hara baik mikro maupun makro. Untuk memberikan supply hara bagi tanaman perlu dilakukan pemupukan. Berhubungan dengan pemupukan maka dengan penambahan lempung efisiensi pemupukan akan meningkat sebab kehilangan pupuk akibat leaching bisa diminimalisir.
Apabila upaya pertama, kedua dan ketiga adalah untuk meningkatkan ketersediaan air maka upaya yang ke-empat adalah untuk menjaga agar air tidak hilang dari tanah. Dengan dominasi pori makro maka evaporasi dari tanah pasir pantai akibat suhu yang tinggi bisa menyebabkan kehilangan air dalam bentuk uap. Upaya yang dilakukan adalah dengan pemulsaan baik dengan pemulsaan menggunakan plastik maupun secara organik dengan menggunakan pupuk kandang. Pada lahan milik petani di daerah ini digunakan pupuk kandang sebagai mulsa. Selain untuk menjaga simpanan air dalam tanah, pemanfaatan pupuk kandang sebagai mulsa ini juga ditujukan untuk mempermudah pembudidayaan tanaman semangka di lahan tersebut. Dengan adanya pupuk kandang, pertumbuhan tanaman semangka meningkat karena jerami digunakan sebagai media untuk mengkaitkan sulur-sulurnya.
Kecepatan angin adalah salah satu faktor yang mempengaruhi transpirasi, dengan peningkatan kecepatan angin tingkat transpirasi menjadi meningkat dan meskipun transpirasi berguna untuk menjaga suhu tanaman tapi apabila terjadi dalam jumlah yang berlebih maka bisa mematikan tanaman itu sendiri. Daerah pantai merupakan daerah terbuka dengan kecepatan angin yang tinggi. Untuk mengurangi cekaman kecepatan angin, maka dibuat windbreaker baik secara alami maupun secara buatan. Dengan keberhasilan menurunkan kecepatan angin maka tingkat transpirasi bisa berkurang. Di daerah pengamatan digunakan windbreaker seperti dan daun kelapa.
Berdasarkan hasil pengamatan, pH di daerah ini mempunyai pH rata-rata sebesar 5,5 yang berarti upaya pembenahan tanah cukup efektif dan dapat menjamin pertumbuhan tanaman yang baik. Hal ini dapat dipengaruhi karena penambahan bahan organik yang bersifat asam sehingga didapatkan pH yang cukup rendah walaupun berada di dekat laut. Untuk kadar lengas tanah pada areal pertanaman di stop site ini didapat sekitar 6,4. Lengas yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman sehingga diperlukan penyiraman secara berkala. Untuk suhu tanah didapatkan bahwa suhu tanah permukaan lebih tinggi dari pada suhu tanah pada kedalaman 10 dan 50 cm. Hal ini terjadi karena permukaan tanah merupakan daerah yang paling luar sehingga tingginya suhu di lapisan ini diakibatkan karena pengaruh sinar matahari.

Pada lahan tersebut digunakan pemecah angin (wind breaker) untuk mengurangi pengaruh buruk dari tiupan angin kencang yang membawa partikel-partikel garam. Pemecah angin yang digunakan adalah pemecah angin sementara berupa anyaman daun kelapa. Partikel-partikel garam yang terbawa angin dan menempel pada tanaman atau menumpuk di lahan dihilangkan bersamaan dengan penyiraman tanaman yang sumber airnya tersedia dalam bak-bak beton  atau sumur beton yang disebut irigasi sumur renteng. Sedangkan penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor atau ember. Pada lahan pasir pantai untuk mengurangi penguapan langsung dari permukaan tanah banyak digunakan mulsa atau seresah sebagai penutup tanah.
Untuk mengatasi kondisi lahan pasir pantai yang tidak subur baik fisik, kimiawi dan biologisnya, para petani telah menambahkan pupuk kandang dari ternak yang dipeliharanya, juga pupuk buatan dan dengan melakukan manipulasi lahan. Manipulasi terhadap lahan dilakukan dengan menempatkan lembaran plastik atau bahan-bahan yang bermanfaat sejenis dengan maksud agar lahan pasir pantai yang bersifat porous tetap dapat mempertahankan ketersediaan airnya. Manipulasi terhadap lahan pasir pantai juga dilakukan dengan menambahkan tanah lempung yang didatangkan dari luar kawasan secara terus-menerus sehingga diharapkan dapat terwujud lahan yang menjadi lebih subur untuk pertumbuhan tanaman.
Saat praktikum dilaksanakan terdapat kemiripan tempat dengan kondisi fisik hampir sama yaitu pada Pantai Samas(Bantul) dan Pantai Bugel(Kulonprogo) tetapi terdapat perbedaan dalam hal perlakuan budidaya tanamannya. Pada Pantai Samas, petani lebih konsen terhadap budidaya tanaman hortikultura seperti bawang merah, cabai merah dan biasanya ditanam pada bulan kering( juni-september) karena tanaman tersebut secara fisiologis tidak tahan terhadap keadaan air yang terlalu banyak sedangkan pada saat bulan basah petani hanya menanam tanaman yang memiliki nilai ekonomis yang lebih murah seperti terong, kangkung. Letak areal pertanian yang diusahakan agak jauh dari bibir pantai dibanding pada areal pertanian di Pantai Bugel. Pada Pantai Samas banyak menggunakan Windbreaker tanaman keras seperti akasia dan jati kebon serta memiliki reservoir air yang cukup besar yang berada di dekat pantai.
Sedangkan pada Pantai Bugel, melakukan penanaman berbagai macam jenis tanaman holtikultura dan buah seperti semangka dan tidak terlalu konsen seperti halnya yang dilakukan pada Pantai Samas yaitu dengan menanam cabai merah maupun bawang merah. Adapun petani membuat sendiri windbreaker dari daun tanaman kelapa yang kering yang disusun dan ditaruh di pinggir lahan serta penanaman tanaman pemecah angin seperti cemara udang . Menurut penuturan petani terdapat perbedaan yang signifikan jika antara ada tidaknya windbreaker terhadap produktifitas tanaman yang dibudidayakan. Jika pada areal pertanaman dipasang adanya windbreaker maka produktifitas akan meningkat. Windbreaker tidak hanya berupa daun kelapa, tetapi juga dengan menanam tanaman rumput gajah yang tentunya memiliki fungsi lain sebagai pakan ternak.


KESIMPULAN

1.      Pengolahan tanah pada masing-masing tanah mempunyai cara yang berbeda-beda, tergantung pada sifat fisik dan kimia tanah, serta ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan tanaman.
2.      Budidaya tanaman di daerah Bambanglipuro yakni tanaman terong menggunakansistem genangan dalam parit yaitu ketika musim kemarau airnya akan digunakan untuk pengairan dan tanaman selalu dalam keadaan kapasitas lapang dan pada musim penghujan dengan air berlebih parit tersebut digunakan sebagai untuk membuang air yang berlebih tersebut dan menjaga tanaman pada kondisi tidak jenuh air.
3.      Untuk meningkatkan produktivitas tanaman yang dibudidayakan di lahan pasir pantai dengan pemberian lempung, bentonit, zeolite, mulsa organik, maupun anorganik, dan pembuatan wind breaker.
4.      Pengolahan tanah minimum (Minimum Tillage) adalah pengolahan tanah yangdilakukan secara terbatas atau seperlunya tanpa melakukan pengolahan tanahpada seluruh areal lahan.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim.1991. Kesuburan Tanah.Direktorat Jendral PendidikanTinggi. Departemen Pendidikandan Kebudayaan.

Anonim. 1991. Taman wisata Alam danTaman Wisata laut PulauSangiang

Anonim. 2009. Budidaya Kangkung. <http://warintek.progressio.or.id/budidaya-kangkung.html>.  Diakses pada tanggal 5 Juli 2012.

Anonim. 2010. Budidaya Timun. <http://budidaya-di.blogspot.com/2010/01/budidaya-timun.html>. Diakses pada tanggal 5 Juli 2012.

Anonim. 2011. Kacang Tanah. . Diakses pada tanggal 5 Juli 2012.

Hakim , N., Yusuf, N., A.M. Lubis, Sutopo G. N., Go Ban Hong, dan H. H. Bailey. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Hanafiah, K. A. 2004. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Kertenogoro, B.D. dan S. Soekodarmodjo. 1987. Anasir Fisika Tanah. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta.

Kohnke, H. 1968. Soil Physics.TataMcGraw Hill, Bombay.

Mardjuki, A. 1994.Pertanian danMasalahnya. Andi Offset, Yogyakarta.

Maroeto , Moch. Arifin dan Sutoyo. 2007. Identifikasi dan diagnose sifat kimia tanah salin untukkesesuaian tanaman cemara udang ( Casuarina equisetifolo ). Jurnal Pertanian Mapeta 10(1) : 13-23

Notohadiprawiro, T. (1996) Lahan Kritis DanBincangan Pelestarian Lingkungan Hidup.Seminar Nasional Penanganan Lahan Kritisdi Indonesia tanggal 7-8 November 1996.PT. Intidaya Agrolestari, Bogor.

Parimawati, E., 2001. Teknik Pemanenan Aliran Permukaan (run-off harvesting) di Lahan Kering Pringgabaya. Skripsi Fakultas Pertanian Unram.

Rinsemi, W. J. 1993. (Bemesting en Meststoffen alih bahasa H.M. Saleh). Bhratara, Jakarta.

SQI, 2001.Guidelines for Soil Quality Assessment in Conservation Planning. Soil Quality Institute. Natural Resources Conservation Services.USDA.

Sudihardjo, AM. 2000. Teknologi Perbaikan Sifat Tanah Subordo Psaments dalam Upaya Rekayasa Budidaya Tanaman Sayuran di Lahan Beting Pasir. Prosiding Seminar Teknologi Pertanian untuk Mendukung Agribisnis dalam Pengembangan Ekonomi Wilayah dan Ketahanan Pangan, Yogyakarta.

Suprapto, A. 2003.Land and water resourcesdevelopment in Indonesia.DalamFAOInvestment in Land and Water.Proceedingsof the Regional Consultation.

Syamsiah, Iis dan A. M. Fagi. 2004. Teknologi Embung. Sumber Daya Air dan Iklim Dalam Mewujudkan Pertanian Efisien. Kerjasama Departemen Pertanian Dengan Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (PERHIMPI).

Tindall, H. D. 1983. Vegetable In The Tropics. Mac Millan Education, Ltd, London.

Widjajaadji, I, P, G., H. Suwardjo., dan M. Soepartini.1987.Faktor Tanah Dalam Menentukan kebutuhan dan Meningkatakan Efisiensi Penggunaan Pupuk.Dalam Prosiding Lokakarya Nasional Efisiensi Pupuk. Puslittan Balitbang Deptan:183-203. 

Yuwono, N. W. 2009. Membangun kesuburan tanah di lahan marginal.Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan 9(2) : 137-141.
















No comments:

 


Loading...


Please Wait...