Pages

Gunakan Mozzila Firefox untuk mengakses website ini dan jangan lupa klik iklannya

Sunday, May 15, 2011

DASAR-DASAR EKOLOGI ACARA 5 PENGENALAN EKOSISTEM

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR EKOLOGI
ACARA 5

PENGENALAN EKOSISTEM

I. TUJUAN

1. Mempelajari macam-macam bentuk ekosistem
2. Mengetahui struktur dan komponen pembentuk ekosistem

II. TINJAUAN PUSTAKA

Satuan pokok ekologi adalah ekosistem atau sistem ekologi yakni satuan kehidupan yang terdiri atas suatu komunitas makhluk hidup (dari berbagai jenis) dengan berbagai benda mati berimteraksi membentuk suatu sistem. Ekosisitem dicirikan dengan pertukaran materi dan transpormasi energi yang sepenuhnya berlangsung di antara berbagai komponen dalam sisitem itu sendiri atau dengan sistem lain diluarnya (Soekarni et al., 1987).
Ekosistem merupakan sebuah organisasi dimana tidak hanya mencakup serangkaian spesies tumbuhan dan hewan saja tetapi juga segala macam bentuk materi yang melakukan siklus dalam sistem itu, dan energi yang menjadi kekuatan bagi ekosistem. Sinar matahari merupakan sumber energi dalam sebuah ekosistem, yang oleh tumbuhan dapat diubah menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis. Pembentukan jaringan hidup selanjutnya tentu saja bergantung pula pada kemampuan tumbuhan untuk menyerap berbagai bahan mineral dari dalam tanah yang selanjutnya diolah dalam proses metabolisme (Soeriatmadjaja, 1989).
Ekosistem merupakan satuan fungsional dasar dalam ekologi. Jika dilihat dari fungsinya ekosistem dibedakan menjadi 2 yaitu komponen autotrof (mampu mensintessi makanannya sendiri dengan mengikat energi dan memebentuk senyawa kompleks) dan komponen heterotrof (memanfaatkan bahan-bahan organik yang disediakan leh organisme lain), sedangkan jika dilihat dari segi penyusunnya dibedakan menjadi 4 yaitu benda tak hidup (abiotik), produsen (organisme autotrof), konsumen (organisme heterotrof) dan pengurai (Pratiwi et al., 1996).
Ekositem yang terbentuk oleh komponen-komponen hidup dan tak hidup di suatu tempat berinterajsi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Keteraturan itu terjadi oleh adanya arus materi dan daur energi yang dikendalikan oleh arus informasi antar komponen dalam ekosistem tersebut ada dalam suatu keseimbangan tetentu. Perbedaan antara ekosistem satu dengan ekosistem lain pada tingakat organisasi yang berbeda tergantung banyaknya organisme produsen, banyaknya jenis organisme konsumen, banyaknya keanekaragaman organisme pengurai serta banyaknya macam komponen abiotik (Soemarwoto, 1997).
Menurut hidayat (2002), pertumbuhan dan produksi tanaman fungsi dari faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik dapat diperbaiki melalui program pemuliaan tanaman. Faktor lingkungan yang penting dan besar pengaruhnya adalah suplai air, unsur hara, cahaya matahari dan suhu. Sering kali tingkat produksi tanaman sangat ditentukan oleh faktor pertumbuhan dan produksi tanaman yang merupakan fungsi dari faktor genetik lingkungan. Lingkungan yang mencekam merupakan suatu faktor lingkungan yang potensial tidak menguntungkan bagi makhluk hidup. Pada umumnya cekaman lingkungan dikelompokkan menjadi 2 yaitu (Hidayat, 2002):
a. Cekaman biotik, terdiri dari:
b. Kompetisi intra spesifik dan antar spesifik
c. Infeksi oleh hama dan penyakit.
d. Cekaman abiotik berupa:
e. Suhu (tinggi dan rendah)
f. Air (kelebihan dan kekurangan)
g. Radiasi (ultraviolet, inframerah dan radiasi yang mengionisasi)
h. Kimiawi (garam, gas dan pestisida)
i. Angin
j. Suara
Pengurai merupakan organisme heterotrof yang menguraikan bahan organic yang berasal dari organisme mati (bahan organic kompleks). Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan lagi oleh produsen. Yang termasuk pengurai adalah bakteri, jamur dan lain-lain (Warsito dan Setyawan, 1999).
Sifat-sifat ekosstem antara lain sebagai berikut: setiap ekosistem bersifat dinamis; dalam arti jumlah, posisi, atau peranan dan intensitas setiap bagian atau unsure akan berubah aatu berkembang secara terus menerus dan berganti setiap saat sebagaimana lazimnya suatu sitem hidup. Setiap ekosistem ditandai oleh suatu struktur atau jenjang hierarkis. Misalnya tumbuhan adalah produsen makanan hama. Hama memakan tumbuhan dengan aneka pola penyerangan. Selanjutnya hama menjadi makanan atau mangsa bagi musuh alami. Dengan demikian musuh almi menduduki tempat teratas dalam rantai makanan ekosistem tanaman. Tanpa musuh alami tanaman dihabiskan oleh hama. Habisnya tanaman pada gilirannya akan menyebabkan kematian musuh almi. Ketiga unsur (tanaman, hama dan musuh alami) dalam suatu ekosistem merupakan system yamg saling terkait. Keseimbangan antara ketiga ekosistem ini harus dijaga agar tanaman dapat tumbuh dengan baik (Untung, 1996).
Menurat Sastrosoebarjo (1997), usaha persawahan pasang surut telah berumur kira-kira 50 sampai 100 thaun, dan terutama dirintis oleh petani Bugis, Banjar di Klimantan dan Sumatrs dan kemudian diikuti oleh petani-petani Melayu, Jawa, Madura dan lain-lain. Bentuk usaha tani mereka laksanakan dengan mantap dengan ciri-ciri yang agak intensif, kurang pada tenaga kerja modal, berpindah-pindah dengan periode pembenaman tanah, dan dilaksanakan tidak menetap ditempat dengan pekerjaan lain-lain cukup banyak dan kadang-kadang lebih utama dari usaha tani pasang surutnya. Cara-cara demikian kurang meguntungkan dipandang dari penggunaan tanah secara rasional dan kurang menguntungkan bagi penerapan teknologi dalam bidang persawahan yang selalu berkembang (Saatrosoebarjo, 1997).

III. METODOLOGI

Praktikum kali ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 7 Mei 2005. Pada praktikum ini para praktikan melakukan pengamatan terhadap ekosistem yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu ekosistem tegalan lokasi sawah yang dipilih adalah sawah di kawasan Banguntapan. Peralatan yang digunakan yaitu kamera untuk mengambil gambar bahan-bahan yang dibutuhkan sebagai sample dari ekosistem tegalan, antara lain produsen diwakili oleh jagung (Zea mays), konsumen tingkat 1 diwakili oleh ulat daun, konsumen tingkat 2 diwakili oleh ayam (Gallus gallus domesticus) dan pengurai yang diwakili oleh cacing (Pheretima sp). Di lokasi tegalan praktikan diharuskan mencari dan mengambil beberapa gambar komponen biotik yang terlibat dalam arus energi dan daur materi ekositem sawah tersebut kemudian diamati dan digambar daur materi dan arus energi yang terjadi.


DAFTAR PUSTAKA

Hidayat. 2002. Kajian faktor cekaman lingkungan pada tanaman padi di lokasi rasau jaya. Agr UMY (Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian). X (1): 37p

Pratiwi D. A, Sri Maryati, Srikini, Suharno. 1996. Biologi I. Erlangga. Jakarta.

Sastrosoebarjo, S. 1997. Menyongsong pemanfaatan pola pertanian pasang surut. Pertemuan Ilmiah. II (3): 1-9

Soekarni, Ahmad R, dan Munir R. 1987. Lingkungan: Sumber daya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. UI Press. Jakarta.

Soemarwoto. 1997. Ekologi Lingkungan Hidup. Bumi Aksara. Jakarta.

Soeriatmadjaja, R. E. 1989. Ilmu Lingkungan. Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Untung, K. 1996. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Warsito dan Setyawan. 1999. Komposisi mineral tanah yang telah lama disawahkan didaerah tugumulyo sumatera selatan. Jurnal Tanah Tropika. Vol VIII (2): 131-138

No comments:

 


Loading...


Please Wait...